Silaturahmi adalah budaya bangsa kita, sikap senang saling menyapa, senang saling mengunjungi ataupun senang membagi kesenangan (misal hasil panen) dengan saudara dan tetangga merupakan keseharian bangsa kita.

Dan di moment lebaran ini semangat Silaturahmi begitu keras terdengar di desa kami. Teringat dulu waktu kecil, saya bersama teman sebaya membentuk gang silaturahmi berkeliling kerumah orang-orang tua di desa kami untuk bersilaturahmi. Rutinitas ini bisa memakan waktu sampa tujuh hari… Kok lama?, Iya silaturahmi ini diisi nasehat- nasehat oleh para orang tua, bertanya kabar serta tentu saja mencicipi (menghabiskan lebih tepatnya) makanan khas lebaran yang dulu begitu istimewa.

Ah.. tahun berapa itu..?? he..he…he…

Seperti kata orang bijak, berinovasilah atau kamu akan tertinggal, maka silaturahmi pun kini berinovasi. Di era dimana segala sesuatu harus serba cepat, muncul ide untuk mengumpulkan keluarga satu eyang dalam satu waktu. Ide ini sungguh brilian, dalam satu waktu, saya bisa bertemu dengan  paman, pakde, keponakan, sepupu dan tentu saja bersilaturahmi. Sementara keluarga dengan eyang yang lain berkumpul diwaktu yang lain. Hingga semua eyang mendapat jatah berkumpulnya.

Kemudian bagaimana yang tidak satu eyang?, Tentu saja mau tidak mau harus kunjungan personal agar bisa bersilaturahmi meski harus berbagi waktu dengan silaturahmi ketempat wisata yang kini banyak bertebaran sampai pelosok-pelosok sehingga membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mengunjunginya.

(Hari ini dua orang kawan datang bertamu, karena ini jaman pencitraan, aku meminta kepada mereka untuk membantu mengurangi tumpukan kue yang ada ditoples agar kelihatan seperti banyak yang datang bersilaturahmi ke rumah orangtuaku)  )*boeb.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir Batin.