Ibu-ibu Desa Karangtengah mensyukuri Kemerdekaan Republik Indonesia dengan gejog (17/8). Gejog adalah tradisi menabuh lesung dengan alu bersama sama dengan variasi tumbukan sehingga menjadi musik yang indah.

Menurut Nini Jarmini, salah satu penabuh, tradisi gejog biasany dilakukan tiga kali yaitu jam lima sore tanggal 16, tanggal 17 pagi dan saat detik-detik Proklamasi.

“Gejoge siki (tanggal 16 sore), ngesuk esuk-esuk karo awan pas proklamasi”, ungkapnya dalam bahasa jawa.

Menurut beliau, dahulu pada saat tujuh belasan suasananya meriah sekali. Gejog diawali dari perangkat desa yang menabuh kenthong desa sebagai tanda dimulainya gejog. Kemudian warga yang mempunyai lesung mulai menabuhnya dengan alu bersahut sahutan sehingga menimbulkan irama yang indah.

Kemudian pada perkembanganya tradisi gejog perlahan menghilang seiring datangnya mesin penggiling gabah menggantikan lesung untuk menumbuk padi.

Dan dimulai dua tahun lalu, pemuda desa karangtengah berinisiatif melestarikan kembali gejog. Dengan bermodal lesung milik salah satu warga desa yang diletakan di halaman rumah ternyata mampu membangkitkan semangat ibu-ibu untuk bernostalgia dengan tradisi gejog dimasa mudanya.

Kini, tradisi gejog pun kembali terancam hilang kembali. Lesung satu-satunya yang dipakai untuk gejog sudah lapuk dimakan usia. Suara yang dihasilkan sudah tidak sekeras tahun lalu. Entah tahun depan masyarakat desa karangtengah masih bisa mendengar gejog)*boeb